Jejak Persahabatan dalam Takdir

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya ingin sedikit bercerita tentang seorang teman. Semoga kisah ini bisa bermanfaat. :)

Entah sudah berapa kali saya terkagum-kagum dengan takdir yang menuntun saya sampai di titik ini. Apa yang awalnya saya kira buruk, ternyata justru sebaliknya—saya menemukan secercah harapan di dalamnya.

Tak disangka, di lingkungan yang saya anggap kelam, saya justru menemukan mutiara berharga yang mampu mengubah hidup saya. Mutiara itu adalah dirimu.
Berawal dari obrolan ringan di malam itu, hingga percakapan yang lebih dalam, perlahan saya mengenalmu. Hari demi hari, kita semakin akrab.

Obrolan singkatmu,
candaanmu yang tak pernah melampaui batas,
peringatan kecilmu,
dan ajakan sederhana darimu—

semuanya akan selalu saya kenang. Semoga itu kelak menjadi investasi besar untukmu di hari kemudian.

Entah sudah berapa kali pula saya terkagum-kagum dengan kehidupanmu. Jika sahabat Nabi yang terakhir memiliki secuil sifat dari Nabi Ayyub, maka menurut saya, engkau punya secuil sifat dari Uwais al-Qarni. Kehadiranmu ibarat pembatas yang menjaga agar hidup saya tidak berantakan.

Benar katamu:
"Tiang akan tetap berdiri walau hanya ditancapkan. Tapi suatu saat, ia pasti akan goyang diterpa angin. Karena itu, ia perlu ditopang tiang lain di sekitarnya, juga tali yang mengikatnya, agar tetap kokoh."

Terima kasih sudah mau menerima segala kekurangan saya. Ada tiga hal yang saya harapkan darimu, kawan. Pertama, kelak ketika ajal menjemput saya, semoga engkau turut menyolatkan jenazahku. Kedua, jika saya tidak ada di surga, tolong carilah saya di neraka. Dan ketiga, setelah kita lulus nanti, saya ingin kita tetap terhubung dan saling bertukar kabar.

Dari semua ini saya semakin yakin bahwa takdir Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya.
Terima kasih, R.F. Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin.

See you next time!

Comments