Harapan Terakhir Itu Bernama “IBU”
Akhir-akhir ini, banyak peristiwa menarik yang melintas di hidup saya. Beberapa bulan lalu, saya mengerahkan segalanya demi satu tujuan: mendapatkan pekerjaan. Mulai dari mengejar sertifikasi hingga mengikuti pelatihan bahasa agar bisa berkarier di negeri orang. Semua saya pertaruhkan demi dua kata: “Bisa Kerja” . Seluruh proses itu saya biayai menggunakan sisa tabungan dari pekerjaan sebelumnya. Namun, hasilnya? Nihil. Mungkin saya kurang tekun, atau memang takdir belum berpihak ke sana. Hingga akhirnya, Ibu mengeluarkan "ultimatum" agar saya berhenti mengejar mimpi ke luar negeri. Sebagai anak, saya pun patuh. Titik Terendah Saya terpaksa memulai segalanya dari nol. Puluhan lamaran saya sebar secara acak. Saking putus asanya, saya melamar ke posisi yang bahkan saya sendiri tidak paham apa tugasnya. Psikotes demi psikotes saya lalui tanpa hasil. Di tengah rasa frustrasi, saya membatin, "Setidaknya, beri saya kesempatan wawancara sekali saja. Di sana, saya akan berjuan...
.png)
