Ketika Hal yang Seharusnya Tabu Dinormalisasi
Oke.. Bismillah.. Lagi-lagi kali ini saya akan membahas keresahan yang saya rasakan saat ini. Tidak jauh berbeda dengan tulisan saya yang sebelumnya, yaitu masih membahas tentang permasalahan sosial. Namun, ada sedikit perbedaan di dalamnya.
Kita masuk ke awalan terlebih dahulu.. Saat ini kita
merasakan kedamaian yang belum pernah dirasakan oleh orang-orang terdahulu.
Kalau laper, tinggal buka hp langsung order. Mau ngirim surat, tinggal buka hp
langsung ketik. Banyak sekali kemudahan-kemudahan yang bisa kita nikmati saat
ini. Hal ini merupakan buah dari pertumpahan darah para kakek dan nenek kita
dulu untuk mempertahankan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang benar.
Pada zaman dahulu, para sahabat dipersaudarakan oleh
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan
Sa’ad bin Ar-Rabi’, Ammar bin Yasir sekutu Bani Makhzum dipersaudarakan
dengan Hudzaifah bin Al-Yaman dan masih banyak lagi (sumber: https://www.islampos.com/persaudaraan-sahabat-yang-ditetapkan-rasulullah-171888/). Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam memasang-masangkan para sahabat bukan tanpa tujuan,
tujuan Rasulullah memasang-masangkan para sahabat yaitu agar saling menguatkan untuk
memperjuangkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang telah dibawa-Nya dan disyiarkan
kepada para sahabat sebagai pedoman hidup. Hal ini merupakan hal yang normal dan
seharusnya terjadi, karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang lemah. Maka
dari itu, kita membutuhkan teman yang bisa saling mengingatkan dan menguatkan.
Lain halnya yang terjadi pada akhir zaman ini. Ketika ada dua
orang pria yang bersahabat yang saling mengingatkan dan menguatkan dalam
kebaikan dianggap sebagai hal yang aneh. Hal ini disebabkan karena munculnya
pemikiran-pemikiran dari komunitas bendera pelangi yang sudah menyebar di
masyarakat.
Kenapa sih bahas topik ini? Karena ini merupakan bagian dari
keresahan yang saya alami. Sebelumnya saya ingin desclaimer terlebih dahulu, Jadi ada teman saya yang bercerita kepada saya. Bahwa dia, membatasi diri untuk tidak berpacaran, karena tau berpacaran itu merupakan sesuatu yang dilarang dalam syariat islam, dan sedikit membatasi interaksi dengan lawan jenis karena khawatir timbul fitnah yang akan menimpa dirinya. Dengan latar belakang yang seperti itu, teman saya pun mendapat statement yang kurang mengenakkan dari seorang temannya yang berkata “ih kenapa kamu sering sama
si itu terus.. klo perempuan sama perempuan sering bareng-bareng mah kan wajar,
kalau laki-laki keseringan bareng terus kaya gmna gitu..”. Andai mereka tau, kalau
hal ini merupakan bentuk usaha yang dilakukannya untuk menjaga diri dari fitnah. Itulah yang terjadi ketika berpacaran sudah
dinormalisasi dan kaum pelangi dianggap sebagai hak asasi.
Pertanyaannya adalah, apakah kita rela melihat nilai-nilai
dan prinsip-prinsip yang sudah dipintal dengan darah dan perjuangan oleh para
pendahulu kita diurai dengan sebagian orang yang tidak bertanggungjawab? Apakah
kita rela anak dan cucu kita hidup di tengah-tengah penyimpangan-penyimpangan
yang sudah dinormalisasi? Jawabannya ada pada diri kita sendiri.
Terimakasih yang sudah membaca sampai akhir, semoga tulisan ini bisa menyadarkan untuk mereka yang sedang sakit. Desclaimer : Tulisan ini murni berasal dari pendapat dan keresahan pribadi penulis.



Comments
Post a Comment