Diantara Kereta, Bus, dan Kehidupan
Bus Antarkota
Saya ingin berbagi sedikit cerita. Bukan untuk menggurui, hanya sekadar pengalaman pribadi yang mungkin bisa diambil hikmahnya.
Dulu, saya bekerja sebagai freelancer di sebuah kota kecil dekat kampung halaman. Sampai akhirnya Allah memberi saya kesempatan untuk merantau ke Jakarta dan mengembangkan potensi. Hidup di Jakarta membuat saya banyak belajar, termasuk lewat pengalaman sederhana seperti naik transportasi umum.
Awalnya, saya berniat membawa kendaraan pribadi agar mobilitas lebih mudah—baik untuk keperluan mendadak maupun pulang kampung. Tapi akhirnya saya urungkan niat itu. Saya menyadari, transportasi umum bukan sekadar alat pengantar dari satu kota ke kota lain, melainkan ruang belajar yang penuh pelajaran hidup.
Saat pertama kali pulang kampung, saya naik bus dengan ongkos hanya Rp50.000 dari Karawang menuju rumah. Jujur, perasaan saya campur aduk: cemas, kurang nyaman, bahkan agak takut. Wajar, dengan harga murah, apa yang bisa diharapkan selain sampai tujuan dengan selamat, bukan? Tapi justru dari perjalanan tujuh jam itu saya belajar banyak hal.
Sebelum bus berangkat, saya melihat seorang bapak—keringat bercucuran di dahinya—yang tetap bekerja keras demi anak-istrinya bisa makan. Tepat di depan kursi saya, seorang ibu menenangkan anaknya yang gelisah karena kepanasan. Setelah bus berjalan, seorang penumpang wanita pingsan, dan saya melihat bagaimana orang-orang berempati serta saling menolong tanpa menghakimi.
Di sisi lain, saya sendiri menahan lapar sejak pagi, sengaja tidak makan apa-apa. Saya ingin makanan pertama yang masuk ke perut saya adalah masakan ibu. Karena di balik masakan seorang ibu, ada dua nikmat besar:
-
Tidak semua orang masih punya ibu.
-
Tidak semua orang masih punya makanan.
Pelajaran di balik keterlambatan
Pengalaman lain terjadi ketika saya hendak pulang ke rumah kakak. Saya sudah memesan tiket kereta lokal jauh-jauh hari, tapi tetap saja ketinggalan karena perjalanan dari Muara Angke ke Stasiun Pasar Senen memakan waktu lama—harus naik Transjakarta, lanjut KRL ke Cikarang, baru kereta lokal ke Karawang.
Di dalam KRL, saya mulai cemas. Sambil melihat jam di tangan, saya berdialog dengan diri sendiri: “Sudahlah, pasti ketinggalan.” Tapi tetap saja saya memastikan pada kondektur.
Saya: “Bang, ini kereta sampai Cikarang jam berapa ya?”
Kondektur: “Kira-kira 18.53, emang kenapa bang?”
Saya: “Saya mau ke Karawang, masih keburu naik KA lokal nggak ya?”
Kondektur: “Nggak bisa, Bang. Minimal satu jam sebelum berangkat tiketnya harus sudah diurus.”
Dan benar saja, saya resmi ketinggalan. Baterai HP juga hampir habis. Di tengah kebingungan, saya bertanya pada seorang bapak di stasiun. Ia menyarankan naik bus, tapi harus transit naik angkot dulu. Waktu makin malam, saya harus cepat ambil keputusan.
Akhirnya, saya memutuskan pakai ojek online. Dengan catatan: kalau tarif di bawah Rp100.000, lanjut; kalau lebih, batal. Syukurlah tarifnya masih terjangkau meski uang cash saya tipis.
Di perjalanan, saya mengobrol dengan driver agar tidak mengantuk. Dari obrolan itu, saya tahu ia baru keluar sore karena paginya mengantar ibunya berobat ke rumah sakit. Bahkan, order saya adalah penumpang pertamanya hari itu—sebelumnya sempat ditolak order makanan karena tidak punya kembalian.
Saya terdiam. Rasanya tertampar. Saat itu juga saya sadar, selama ini saya kurang bersyukur. Saya masih punya orang tua yang sehat, pekerjaan tetap dengan gaji cukup, dan banyak nikmat lain yang kadang tidak saya sadari.
Ketika saya melihat wallpaper HP driver itu—foto istri dan anak kecilnya—saya semakin merenung. Hidup seorang pria memang selalu berkutat dengan tanggung jawab: sebelum menikah untuk orang tua, setelah menikah untuk istri dan anak, bahkan setelah meninggal tetap diminta pertanggungjawaban.
Lantas, apa yang benar-benar bisa dinikmati seorang lelaki? Mungkin hanya sedikit ruang untuk menyendiri, sebuah “moment of silence” sebelum kembali menunaikan amanah hidup.
Demikianlah cerita singkat ini. Semoga bisa menjadi pengingat untuk saya pribadi, dan semoga teman-teman juga bisa mengambil hikmahnya. Terima kasih.
Comments
Post a Comment