Harapan Terakhir Itu Bernama “IBU”

 Akhir-akhir ini, banyak peristiwa menarik yang melintas di hidup saya. Beberapa bulan lalu, saya mengerahkan segalanya demi satu tujuan: mendapatkan pekerjaan. Mulai dari mengejar sertifikasi hingga mengikuti pelatihan bahasa agar bisa berkarier di negeri orang. Semua saya pertaruhkan demi dua kata: “Bisa Kerja”.

Seluruh proses itu saya biayai menggunakan sisa tabungan dari pekerjaan sebelumnya. Namun, hasilnya? Nihil. Mungkin saya kurang tekun, atau memang takdir belum berpihak ke sana. Hingga akhirnya, Ibu mengeluarkan "ultimatum" agar saya berhenti mengejar mimpi ke luar negeri. Sebagai anak, saya pun patuh.

Titik Terendah

Saya terpaksa memulai segalanya dari nol. Puluhan lamaran saya sebar secara acak. Saking putus asanya, saya melamar ke posisi yang bahkan saya sendiri tidak paham apa tugasnya. Psikotes demi psikotes saya lalui tanpa hasil. Di tengah rasa frustrasi, saya membatin, "Setidaknya, beri saya kesempatan wawancara sekali saja. Di sana, saya akan berjuang habis-habisan membuktikan potensi diri saya."

Harapan itu membawa saya mencari lowongan yang mengadakan walk-in interview. Pucuk dicinta ulam pun tiba; salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia membuka kesempatan tersebut di Jakarta. Meski jarak dari rumah cukup jauh, saya nekat memesan tiket kereta dan penginapan untuk beberapa hari ke depan. Namun, hantaman keras kembali datang: beberapa hari sebelum berangkat, saya mengecek status lamaran di platform tersebut dan hasilnya—Lamaran Anda Tidak Dilanjut.

Gambling Dimulai


Saya sempat ingin menyerah dan membatalkan semua rencana. Namun, logika saya berputar; tiket kereta dan penginapan tidak bisa dikembalikan penuh. Akhirnya saya memutuskan, "Sudahlah, coba saja dulu. Anggap saja untuk membayar rasa penasaran. Setidaknya saya harus sampai di sana."

Saya meminta izin kepada orang tua untuk melakukan langkah konyol ini. Di luar dugaan, mereka justru memberi dukungan penuh. Sebelum berangkat, Ibu bangun pukul tiga pagi hanya untuk menyiapkan "air doa" untuk saya bawa ke Jakarta. Ayah pun membekali saya dengan amalan, "Sebelum interview, baca Surat Al-An’am ayat 103." Karena sudah berada di titik pasrah yang paling dalam, saya menurut saja. Jangankan doa, jika saat itu orang tua menyuruh saya mandi pasir pun akan saya lakukan karena saking tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Jakarta, 20 April 2026


Hari penantian itu tiba. Di atas ojek online menuju lokasi, saya bercerita kepada sang driver. Beliau menyahut dengan tenang, "Gampang itu, Bang. Ini ada 'wangsit' dari orang tua saya: sebelum wawancara, baca Al-Fatihah tiga kali. InsyaAllah berhasil." Kembali, karena saking pasrahnya, wejangan abang ojol itu pun saya amalkan.

Setibanya di lokasi, saya berkenalan dengan kandidat lain. Saya bertanya, "Kamu lamar lewat online juga? Bagaimana prosesnya, ada email balasan?"

Ia menjawab, "Iya, saya dapat surat undangan resmi untuk interview hari ini."

Seketika jantung saya mencelos. Panik luar biasa. "Hah? Surat undangan?! Saya ga dapet lagi! Gimana yaa?!" gumam saya dalam hati. Saya bertanya lagi dengan ragu, "Kalau ga dapat surat undangan, masih bisa ikut ga ya?" Teman baru saya itu hanya menjawab singkat, "Wah, kurang tahu juga, Bang."

Kami pun menunggu acara dimulai dengan perasaan campur aduk. Ternyata, perjuangan belum berakhir di sana. Tidak ada wawancara instan; kami harus melewati pengenalan perusahaan, psikotes tahap pertama, lalu tahap kedua. Hanya mereka yang lolos rentetan ujian itulah yang berhak maju ke meja interview.

Saat pengumuman dimulai, para kandidat dipersilakan memindai QR Code untuk mengisi daftar hadir. Kepanikan saya memuncak; pikiran buruk mulai menghantui. Saya berasumsi bahwa akses tersebut hanya dikhususkan bagi mereka yang memegang surat undangan resmi.

Dengan sisa keberanian yang ada, saya menghampiri panitia—yang belakangan saya ketahui adalah para staf HR yang akan mewawancarai kami. "Kak, kalau di status lamaran tertulis 'Tidak Dilanjutkan', apakah saya masih boleh ikut?" tanya saya ragu.

Staf tersebut sempat terdiam dengan raut wajah bingung, seolah jarang menemui kasus senekat ini. Namun, ia kemudian menjawab dengan cukup ramah, "Boleh kak, ga papa. Udah terlanjur sampai di sini juga, kan? Silahkan isi absennya dulu." Seketika, saya menjadi pusat perhatian. Kandidat-kandidat lain yang memandang saya dengan tatapan sedikit sinis.

Lega? Belum. Masalah baru muncul saat saya mencoba memindai kode tersebut: Gagal. Saya mencoba mengetik tautannya secara manual berkali-kali, namun hasilnya tetap nihil. Keringat dingin mulai bercucuran. Saya bertanya lagi dengan suara bergetar, "Kak, saya tetap ga bisa masuk. Apa memang sistemnya hanya mengizinkan yang punya undangan?"

"Enggaa, bisa kok, coba scan pake Google Lens," saran panitia itu.

Saya mengikuti instruksinya, dan—klik—halaman absensi akhirnya terbuka. Setelah mengisi data dengan tangan yang masih sedikit gemetar, saya melangkah masuk ke dalam ruangan. Di sana, proses rekrutmen yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Setelah pengenalan profil perusahaan, psikotes tahap pertama pun dimulai. Dengan jumlah soal lebih dari 50 butir dan waktu yang hanya 12 menit, target saya yang awalnya "yang penting wawancara dulu" berubah menjadi "lolos psikotes pertama dulu saja"—tidak muluk-muluk. Sebelum mulai, kami diminta berhitung untuk menentukan nomor urut; saya mendapat nomor 28. Begitu waktu dimulai, ketegangan pun terasa.

Singkat cerita, setelah selesai mengerjakan soal, kami diminta menunggu hasilnya sekitar 5 hingga 10 menit. Nomor peserta yang lolos akan dipajang di depan pintu ruang tes. Saat pengumuman tiba, saya hampir tidak percaya melihat nomor 28 tertera di sana. Saya lolos.

Memasuki tahap berikutnya, saya kembali menyesuaikan target: "lolos psikotes kedua dulu saja". Di titik ini, saya mencoba strategi untuk memanipulasi hormon dopamin dalam diri. Saya menyadari jika hormon dopamin meningkat, perasaan akan menjadi lebih bahagia, dan dalam kondisi bahagia, saya bisa mengerjakan tes secara maksimal. Bahkan di momen krusial ini pun, Allah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya.

Ternyata, psikotes kedua hanyalah tes koran (Pauli/Kraepelin) dan tes kepribadian. Saya merasa sedikit lega karena sudah memahami trik mengerjakan tes koran tersebut. Setelah selesai, hasilnya kembali dipajang di papan pengumuman. Sekali lagi, nomor urut 28 muncul di sana.

Saat jeda istirahat, rasa tidak percaya masih menyelimuti saya. Saya pun bertanya kepada rekan sesama pelamar karena merasa heran, "Eh Bro, psikotes pertama dan kedua tadi keknya cuma formalitas doang ga sih? Soalnya kek jumlah pesertanya masih sama ajh banyaknya." Teman saya menjawab, "Ngga, Bang. Tadi ada kenalan saya datang bertiga, tapi yang lolos cuma satu orang. Dua lainnya gugur di tahap awal." Saya tersentak, "Oh ya? Saya kira cuma formalitas doang, ternyata seleksinya benar-benar ketat."

Waktu istirahat berakhir dan kami kembali ke ruang tunggu. Saat sedang berbincang dengan dua orang teman, tiba-tiba seorang staf masuk dan memanggil nama saya sebagai urutan pertama: "Atas nama Firdan Fathir, ada?"

Saya pun langsung bergegas. Saat saya berjalan menuju ruang wawancara, pandangan seluruh kandidat di ruang tunggu tertuju pada saya—rasanya *kek jadi MC (Main Character) Bzir wkwkwk*. Dalam hati saya berucap, "Waduh, keknya langsung interview niih. Bismillah aja lah!" Di sepanjang langkah menuju ruangan itu, saya melantunkan surah Al-Fatihah sebanyak tiga kali dengan lirih, persis seperti saran abang ojek online yang saya tumpangi tadi.

Do’a yang menjadi harapan terakhir

Setelah wawancara usai, pihak HRD meminta saya menunggu kabar selama dua minggu. Saya pun kembali ke penginapan, dan keesokan harinya memutuskan untuk pulang. Namun, baru beberapa jam menginjakkan kaki di rumah, sebuah notifikasi masuk: saya diundang untuk mengikuti user interview di Cirebon. Akhirnya, saya kembali berangkat ke Kota Udang tersebut, tentu dengan bekal air do’a dari Ibu seperti biasanya. Tahapan demi tahapan saya lalui hingga hari pengumuman tiba. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus seluruh rangkaian seleksi.

Mendengar kabar bahagia itu, Ibu berkata, “Sok, beli kemeja baru, sepatu baru, dan perlengkapan kerja lainnya.” Namun, jauh di lubuk hati, saya merasakan hal lain. Jika saja hati kecil ini bisa bicara, ia akan berucap:

“Bu, yang paling saya butuhkan bukanlah barang-barang itu, melainkan doa tulus dari relung hatimu yang terdalam.”

Bagi saya, tidak ada hal yang lebih berharga di dunia ini selain restu dan doa seorang ibu. Dan teruntuk ibu saya, saya hanya ingin mengucapkan:

“Bu, makasih yaa udah mau berjuang bersama, makasih yaa karena tidak banyak menuntut anak laki-lakimu yang mudah overthinking ini. Semoga Allah selalu menjaga mu”

Rentetan kejadian belakangan ini mengingatkan saya pada kisah Nabi Musa yang terhimpit di antara kejaran pasukan Fir’aun dan hamparan laut luas. Di saat manusia merasa buntu, pertolongan Allah datang dengan cara yang melampaui logika.

Pelajaran berharga yang saya bisa petik selanjutnya adalah tentang ambisi. Dulu, saya begitu ambisius mengejar karir; segala cara saya tempuh, namun hasilnya selalu nihil. Baru ketika saya mencoba untuk tenang, menerima rasa sakit, serta mengakui ketidakberdayaan saya sebagai manusia—lalu sepenuhnya memasrahkan segala ikhtiar kepada Allah—tak disangka, Allah memberikan apa yang paling tepat untuk saya.

Semoga cerita ini bisa menjadi penawar bagi teman-teman yang merindukan kehadiran sosok ibu. Bagi yang ibunya telah tiada, jangan berkecil hati. Allah Maha Adil; meski raga ibu tak lagi ada, doa anak yang sholeh dan sholehah tetaplah mustajab di sisi-Nya. Dan bagi siapa pun yang orang tuanya telah mendahului, jangan pernah putus mengirimkan doa-doa terbaik untuk mereka.

Sekian, semoga cerita ini bermanfaat. Terima kasih.

Comments

Popular Posts