Mencari Arah
Halo semua, di sini saya ingin sedikit berbagi pandangan tentang sebuah hal—lebih tepatnya hasil obrolan saya dengan diri sendiri. Untuk memudahkan, saya membaginya ke dalam beberapa poin. Selamat menikmati 😊
Kenapa?
Pernah nggak sih kalian merasa, “kok hidup saya gini-gini aja ya?” atau mempertanyakan tujuan hidup seperti:
-
“Sebenernya arah saya ke mana sih?”
-
“Apa yang saya kejar sebenarnya?”
-
“Tujuan saya hidup itu apa?”
Dan banyak pertanyaan lain yang muncul. Sering kali, kita justru lebih sibuk menghakimi diri sendiri. Padahal, teman terbaik yang selalu ada dalam hidup kita adalah diri kita sendiri.
Pertanyaannya, kenapa bisa begitu? Setelah saya telusuri, mungkin karena saya belum sepenuhnya mengenal diri sendiri. Sampai akhirnya, saya melakukan riset kecil-kecilan untuk mengetahui sifat, bakat, dan minat saya. Dari tes MBTI, refleksi pribadi, sampai mencoba melamar ke berbagai bidang yang saya minati. Dari situ, perlahan saya mendapat insight baru. Benang kusut memang tidak langsung terurai, tapi helai demi helai mulai menemukan jalannya.
Namun, untuk melewati itu semua tentu tidak mudah. Mau tahu detailnya? Yuk, lanjut ke poin berikutnya.
Tiap masa ada temannya, tiap teman ada masanya.
Sadar nggak sih, kalau lingkungan sangat memengaruhi mindset dan pola pikir kita? Seperti pepatah lama:
“Kalau kamu bergaul dengan pandai besi, kamu akan merasakan panas dan bau sisa pembakaran. Tapi kalau kamu bergaul dengan penjual wewangian, kamu akan ikut merasakan wanginya.”
Saya percaya, Allah mempertemukan setiap orang dengan kita bukan tanpa alasan. Selalu ada pesan tersirat yang bisa diambil. Saya sendiri banyak belajar dari setiap teman yang hadir di masa hidup saya.
Saat kuliah, misalnya. Di tengah overthinking skripsi—“Bisa nggak ya saya lulus? Nanti sidang gimana? Setelah lulus apa?”—saya berbincang dengan seorang teman yang juga sedang berjuang. Ia berkata:
“Kalau dipikir-pikir, saya nggak nyangka bisa sampai di titik ini. Dulu saya kira nggak bisa, ternyata bisa. Saya malah merasa bersalah karena sering meragukan diri saya sendiri.”
Dari situ saya belajar pentingnya memberi apresiasi pada diri sendiri, meskipun hanya untuk pencapaian kecil. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk menumbuhkan rasa percaya diri agar siap menghadapi masalah berikutnya.
Setelah lulus, saya mencoba banyak hal baru: data analyst, data science, UI/UX, desain logo, hingga mengajar. Hasilnya? Banyak yang tidak sesuai harapan. Bahkan saya sempat kehilangan arah. Melihat teman-teman sebaya sudah bekerja di perusahaan besar, menikah, atau lanjut S2, saya sempat merasa tertinggal.
Namun, Allah menghadirkan seorang stranger yang memberi banyak insight. Dari obrolan dengannya, saya belajar bahwa:
-
Tidak membandingkan diri dengan orang lain penting agar tetap percaya diri dan fokus pada jalan kita.
-
Sesekali membandingkan diri dengan orang lain juga perlu, agar kita belajar bersyukur dengan apa yang kita miliki.
Pelan-pelan, saya mulai menerima bahwa usia 23 belum terlambat untuk mencari arah. Bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan proses untuk mengenal diri lebih dalam.
Pikiran → ucapan → tindakan → karakter → kebiasaan → arah hidup
Saya belajar dari orang-orang yang saya temui, bahkan dari sosok seperti Shin Tae-yong. Ia mengubah pola latihan dan disiplin timnas Indonesia yang dulu amburadul, hingga akhirnya menjadi tim yang disegani di ASEAN.
Hal ini sejalan dengan buku Atomic Habits karya James Clear: perubahan kecil ternyata bisa memberi dampak besar. Saya pun sadar, selama ini saya terlalu fokus pada tujuan akhir, tanpa memperhatikan perubahan kecil yang justru menentukan arah.
Dunia kerja dan scholarship
Dari refleksi ini, saya paham mengapa di dunia kerja maupun beasiswa, pengenalan diri adalah hal yang fundamental. Bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain kalau kita bahkan belum bisa meyakinkan diri sendiri? Bagaimana bisa memimpin orang lain kalau memimpin diri sendiri saja belum sanggup?
Dan apakah saya sudah selesai dengan proses ini? Tentu belum. Masih banyak yang harus dievaluasi dan diperbaiki, baik dari mindset maupun keputusan.
Tapi satu hal yang saya tahu: lebih baik gagal karena mencoba, daripada tidak pernah gagal karena tidak pernah mencoba sama sekali.
Semoga perbincangan saya dengan diri sendiri ini bisa membawa manfaat juga untuk kalian semua.
Makasih udah mau sharing kisah yang kerasa deket banget dan dalem. Tulisan ini bukan cuma soal nyari jati diri, tapi juga tentang keberanian buat terus mikir, nyari tahu, dan jalan terus meski belum tahu pasti arahnya ke mana. Proses yang kamu jalanin, walaupun belum "selesai", justru nunjukin kalau kamu lagi tumbuh. Dan itu keren banget. Kita nggak harus “menjadi sesuatu” buat bisa ngasih inspirasi ke orang lain.
ReplyDeleteKarena pada akhirnya, perjalanan buat kenal sama diri sendiri itu bukan soal jadi orang lain, tapi soal jadi versi terbaik dari diri kamu sendiri—yang lebih sadar, lebih kuat, dan lebih optimis.