Terkadang Keadaanlah yang Mendewasakan Kita
Bismillah.
Di sini saya ingin sedikit berbagi sudut pandang yang lahir dari pengalaman dan permasalahan hidup yang saya alami sejak awal perkuliahan hingga sekarang. Harapannya, semoga tulisan ini bisa menjadi pelajaran (ibrah), atau setidaknya membuka sudut pandang baru dalam memaknai sebuah masalah dalam hidup.
Kenapa saya memulainya dari dunia perkuliahan? Karena ketika masih di bangku sekolah, masalah yang saya hadapi belum terlalu kompleks. Salah satu penyebabnya mungkin karena lingkar pertemanan yang masih sempit. Saat itu saya bisa dibilang cukup pasif—tidak mengikuti organisasi apa pun. Baru ketika masuk kuliah, perlahan saya mulai memperluas pergaulan: dari urusan akademik, ikut organisasi, terlibat di kegiatan volunteer, hingga mendapat kesempatan menjadi penerima beasiswa hunian.
Di tahun pertama kuliah, saya disibukkan dengan program kerja organisasi dan laporan praktikum yang hampir selalu menumpuk setiap pekan. Saat itu, masalah yang datang terasa begitu berat. Memasuki tahun kedua, masalah yang lebih kompleks hadir: pertemanan, organisasi, bahkan pergulatan dalam diri sendiri. Saking beratnya, saya pernah terlintas untuk bolos saat UTS. Namun, saya kemudian sadar—apakah dengan melakukannya masalah akan selesai? Tentu tidak. Justru akan memunculkan masalah baru yang lebih sulit dihadapi. Maka saya memilih untuk tetap menjalaninya. Di tahun ketiga dan seterusnya, masalah-masalah baru pun muncul, mulai dari pertemanan, akademik, hingga persoalan finansial.
Pernah suatu kali saya bercerita kepada seorang teman bahwa saya ingin mencoba bekerja part-time seperti dirinya. Namun ia berkata:
"Kamu nggak akan bisa, kalau keadaanmu sekarang tidak terdesak seperti saya. Jujur, sebenarnya ini juga bukan kemauan saya, tapi karena keadaan. Mau bagaimana lagi?"
Ada juga kejadian ketika seorang teman bercerita kepada saya tentang masalahnya dengan orang lain. Ia berkata:
"Kalau dia bisa melakukan hal itu ke saya, maka saya juga bisa. Bahkan saya bisa lebih dari itu."
Saya lalu menanggapi dengan pertanyaan sederhana: "Lalu, apa bedanya kamu dengan dia?"
Sekejap, ia terdiam. Tidak lama kemudian, mereka akhirnya berdamai.
Dari situ saya belajar, terkadang Allah menghadirkan situasi yang tidak kita sukai, bahkan mungkin kita benci. Sampai-sampai kita sering bertanya, “Kenapa harus begini? Kenapa harus begitu?” Padahal, jika kita ubah sudut pandang menjadi, “Hikmah apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya?” maka maknanya bisa berbeda.
Dari berbagai peristiwa yang sudah saya alami, saya menyadari bahwa kejadian tidak menyenangkan justru melatih kita untuk berpikir lebih rasional dalam menghadapi masalah. Kita belajar menganalisis permasalahan, mencari solusi, dan tumbuh lebih dewasa. Sama halnya dengan emas: bukankah sesuatu yang berharga lahir melalui proses yang sulit?
Akhir kata, semoga tulisan sederhana ini bisa memberi manfaat—bagi penulis maupun pembaca. 😊
Comments
Post a Comment